,

Apa Pentingnya Jadi Aktivis Kampus?


Kita akan menemukan dunia yang penuh variasi saat pertama memasuki dunia perkuliahan. Ada berbagai macam kegiatan yang ditawarkan oleh lingkungan kampus. Mulai dari riset ilmiah hingga banyaknya aktivitas untuk pengembangan diri. Menjajaki semuanya adalah opsi yang menarik untuk diambil.

Ada persamaan dari semua aktivitas yang ditawarkan tersebut. Semua aktivitas membutuhkan totalitas untuk memetik hasil maksimal. Aktif bergerak melakukan tindakan. Mungkin dari sinilah julukan “aktivis” muncul.

Menjadi aktivis kampus terdengar mempesona. Mentereng aktif sebagai mahasiswa yang kritis dan selalu tampak sibuk. Senantiasa bertempur adu gagasan dan tindakan. Namun siapa yang sangka menjadi aktivis kadang merupa menjadi pedang bermata dua.

Ada yang bilang seorang aktivis lekat kaitannya dengan mahasiswa yang kuliah lama. Terlalu sibuk berkegiatan sampai lupa kewajiban akademik. Banyak yang mengira hobi aktivis adalah menerabas waktu kuliah ideal yang empat tahun. Aktivis kampus adalah mahasiswa yang suka koar-koar dan ngendon lama di ruang sekre sampai enam generasi maba hadir.

Ada yang melemparkan cemoohan. Percuma jadi aktivis kampus kalau tanggung jawab terbengkalai. Apa tanggung jawab yang dimaksud? Tak lain dan tak bukan adalah menghadirkan selembar ijazah kepada orang tua yang telah membiayai semua kebutuhannya tanpa terkecuali.

Bisa jadi anggapan tersebut benar adanya. Namun sebagai mahasiswa yang punya nalar kritis, gak semestinya kita langsung percaya. Ingat bahwa beberapa nama besar justru lahir dari kegiatan aktivisme. Sebut saja Budiman Sudjatmiko yang jadi politisi tersohor yang kini bergabung dengan PDI Perjuangan. Jangan lupa, dulu dia adalah ketua pertama Partai Rakyat Demokratik.

Emang Partai Rakyat Demokratik itu apaan sih? Coba gugling dulu. Ingat bahwa malas gugling berpangkal pada lulus lama.

Namun jangan heran kalau ada mahasiswa yang kepincut dengan aktivis. Siapa tahan melihat pesona dialektika yang aktivis tawarkan? Mengupas diskursus sampai tuntas atau jelek-jeleknya bingung mengambil sikap karena logikanya sudah mentok.

Mungkin juga kisah cinta aktivis kampus selalu berakhir pahit. Apalagi kalau pasangan sudah mengenal enaknya gaji berlipat di atas UMR atau melihat berapa cicilan KPR yang harus dibayar. Tetapi paling tidak, manisnya cinta sudah sempat dicecap aktivis.

Namun kalau boleh menawarkan pandangan yang lebih adil, sebaiknya kita mengurai sosok aktivis. Ada yang memaknai aktivis sebagai predikat, label yang disematkan lingkungan sekitar. Ada juga yang bilang aktivis adalah gaya hidup. Bisa juga diartikan hidup yang gaya, gaya alias sok-sokan sebagai aktivis. Apapun itu semuanya adalah pilihan yang dibuat oleh seorang individu.

Mungkin sebaiknya kita melepaskan terlebih dahulu titel sebagai aktivis dan stereotip yang melingkupinya. Gak ada individu, gak ada aktivis. Maka inti pembahasan dalam perihal ini adalah individu itu sendiri.
Mau lulus cepat, nggebet teman sekampus, aktif dalam kegiatan, dan lain sebagainya adalah kegiatan. Kegiatan yang dilakoni oleh individu. Gak ada hubungannya dengan aktivis.

Ada satu metode yang bagus dari para wirausahawan untuk meraih sukses. Metode itu adalah ATM alias AMATI-TIRU-MODIFIKASI. Pada level pengertian paling mudah untuk dimengerti dan dilaksanakan adalah ambil yang bagus lalu buang yang jelek.

Jadi bila kegiatan aktivisme terlihat menarik maka lakoni saja. Gak usah ragu dengan kabar burung yang beterbangan dan hinggap di telinga. Sukses atau tidak dalam aktivisme dan dimensi kehidupan lainnya adalah pilihan yang bisa kita pilih. Jalani dengan sungguh-sungguh, sepenuh hati, dengan menyeimbangkan kehidupan aktivisme dan tuntutan lain. Niscaya kepuasan batin terpenuhi pun prestasi mumpuni.

Jadi, buat apa ragu untuk mengambil jalan aktivis?

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%