,

Jalan Lembah UGM Ditutup, Muncul Petisi Daring Minta UGM Buka Kembali

bunderan lembah ugm ditutup
doc: skyscrapercity.com

Universitas Gajah Mada merupakan lembaga pendidikan tinggi negeri pertama yang didirikan 3 tahun setelah Indonesia merdeka. Pada awal pendirian, kegiatan belajar mengajar dilakukan di pagelaran Keraton Yogyakarta, hingga akhirnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX menghibahkan tanah di kawasan Bulaksumur sebagai kampus utama.

Kawasan ini pun berkembang sebagai kompleks kampus UGM yang terkenal hingga seantero negeri. Hal ini pun mengundang ratusan ribu pemuda-pemudi berkualitas untuk menimba ilmu di Yogyakarta, sekaligus turut membangun citra Jogja sebagai Kota Pelajar.

Baru-baru ini, pihak kampus UGM menutup Jalan Olahraga pada tanggal 8 Maret 2017, sehingga masyarakat umum tidak bisa mengaksesnya lagi.¬†Muncul petisi “Usut dan Pidanakan Plt Gubernur DKI Jakarta Sumarsono atas Penyalahgunaan Wewenang” yang dibuat Masyarakat Yogyakarta di change.org.

Berikut Isi Petisi:

UGM, Buka Kembali Jalan Olahraga dan Kembalilah Menjadi Kampus Kerakyatan!

Universitas Gajah Mada merupakan lembaga pendidikan tinggi negeri pertama yang didirikan 3 tahun setelah Indonesia merdeka. Pada awal pendirian, kegiatan belajar mengajar dilakukan di pagelaran Keraton Yogyakarta, hingga akhirnya Sri Sultan Hamengku Buwono IX menghibahkan tanah di kawasan Bulaksumur sebagai kampus utama. Kawasan ini pun berkembang sebagai kompleks kampus UGM yang terkenal hingga seantero negeri. Hal ini pun mengundang ratusan ribu pemuda-pemudi berkualitas untuk menimba ilmu di Yogyakarta, sekaligus turut membangun citra Jogja sebagai Kota Pelajar.

Kesuksesan UGM menjadi lembaga pendidikan tinggi yang terkenal merupakan hasil dari kerjasama berbagai pihak, termasuk warga Yogyakarta yang tinggal di sekitar kampus. Masyakarat Jogja sangat terbuka dengan kedatangan mahasiswa yang ingin menimba ilmu. Masyarakat pun menyediakan berbagai kebutuhan mahasiswa seperti tempat tinggal, makanan, dan lain-lain dengan harga yang murah; bahkan beberapa rumah makan memperbolehkan mahasiswa yang tidak mampu untuk berhutang ketika tidak punya uang.

Di sisi lain, masyarakat pun diuntungkan dengan kehadiran kampus UGM di kawasan tersebut. Selain kedatangan mahasiswa, infrastruktur kampus juga menjadi tempat bersosialisasi dan rekreasi warga. Bentuk kampus UGM yang terbuka memudahkan masyarakat mengakses kawasan teesebut, baik untuk sekadar menikmati kerindangan pohon atau bersosialiasi dengan para civitas academia. Kondisi ini membuat batas antara masyarakat dan mahasiswa menjadi sangat tipis, suatu keadaan yang jarang bisa kita lihat di kampus-kampus lain di Indonesia. Hal ini membuat UGM dijuluki sebagai “kampus kerakyatan”, sebuah kampus yang bisa diakses oleh rakyat sebagai bagian dari pendidikan umum.

Sayangnya, julukan “kampus kerakyatan” ini sepertinya sudah tidak valid lagi. Akhir-akhir ini pihak UGM secara perlahan mengusir warga dari wilayah kampusnya. Usaha membuat kampus ekslusif yang tertutup ini bisa dilihat dari tindakan UGM memberlakukan sistem “karcis berbayar” bagi kendaraan motor tanpa KIK yang memasuki kawasan kampus, meski pada akhirnya tindakan ini dilarang oleh Ombudsman di tahun 2012. Selain itu UGM juga memindahkan SunMor (Sunday Morning) di kawasan Jalan Olahraga dengan alasan kebersihan dan keamanan, meskipun kegiatan Sunday Morning ini sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Jogjakarta di akhir pekan selama beberapa tahun terakhir. Pihak UGM juga mulai membatasi aktivitas masyarakat di kawasan Balairung (rektorat) di akhir pekan dengan alasan keamanan, seakan-akan setiap masyarakat yang ada di kawasan tersebut dicurigai sebagai maling.

Baru-baru ini, pihak kampus UGM pun kembali berulah dengan menutup Jalan Olahraga secara sepihak pada tanggal 8 Maret 2017, sehingga masyarakat umum tidak bisa mengaksesnya lagi. Jalan Olahraga merupakan jalan di sisi timur UGM yang selama ini menjadi jalan protokol bagi masyarakat Jogja yang ingin mengakses kawasan Sagan dan Selokan Mataram, khususnya saat terjadi kemacetan di Jalan Gejayan. Jalan ini juga menjadi jalur trayek beberapa bus kota yang melayani warga Yogyakarta. Selain itu, masyarakat juga menggunakan jalur ini untuk mengakses taman lembah UGM yang menjadi satu-satunya Ruang Terbuka Hijau yang ada di kawasan Bulaksumur, baik untuk sekedar jalan-jalan atau numpang ngadem di siang hari.

Ditutupnya Jalan Olahraga membuat sebagian masyarakat merasa keberatan akibat kemacetan yang ditimbulkan. UGM dengan sewenang-wenang membuang arus lalu lintas ke kawasan Karangmalang dan kampus UNY. Meskipun jalur timur ini sudah ditata “dengan baik hati” oleh pihak UGM namun tetap terasa padat, khususnya di perempatan utara Teknik UNY. Perlu diperhatikan bahwa kemacetan ini sebagian besar disebabkan oleh antrian kendaraan motor dan mobil milik mahasiswa UGM di gerbang Jalan Olahraga.

Selain kemacetan, kebijakan ini juga menunjukan sikap UGM yang ingin mengekslusifkan kawasan kampus dan mengusir warga dari kawasan ini. Pembatasan akses ke lembah menunjukan bahwa UGM tidak ingin masyarakat turut menikmati fasilitas tersebut. Warga hanya mendapatkan kemacetan semata dari mahasiswa pendatang yang menggunakan kendaraan bermotor, tanpa mendapatkan keuntungan dari kehadiran kampus UGM itu sendiri.

Penutupan Jalan Olahraga dengan alasan keamanan juga menunjukkan arogansi pihak UGM yang seakan menganggap semua warga adalah calon maling yang membahayakan. Hanya karena satu dua kasus, seluruh warga Jogja yang menggunakan akses jalan ini tiba-tiba dicap sebagai kriminal yang tidak diperbolehkan memasuki kawasan kampus sama sekali. Dengan alasan ini, bukan tidak mungkin pihak UGM menutup sepihak jalan-jalan lain yang ada di kompleks ini, sehingga murni menjadi kampus ekslusif yang menyingkirkan kehadiran masyarakat Jogja dari kawasan tersebut. Tentunya, hal ini menyakiti perasaan masyarakat Jogja yang selama ini mendukung pengembangan pendidikan di lingkungan UGM.

Sungguh disayangkan jika hanya untuk mengejar gelar World Class University yang “eklsusif”, UGM melupakan backgroundnya sebagai kampus kerakyatan dan membuat keputusan yang merugikan warga di sekitarnya. Ekslusifitas kampus ini semakin menjauhkan jarak antara mahasiswa dan masyarakat Jogja, sehingga bukan tidak mungkin terjadi friksi di masa depan jika keduanya saling tidak memahami. Dalam diskusi di grup Info Cegatan Jogja, sudah ada berbagai elemen masyarakat yang ingin menutup jalan kampung dari civitas academica UGM, sebagai balasan tindakan UGM yang menutup Jalan Olahraga. Tentunya konflik ini bukanlah hal yang diinginkan oleh kedua pihak.

Dengan ini, kami menuntut UGM untuk membuka kembali akses Jalan Olahraga bagi masyarakat umum dan kembali membuka kawasan kampus sebagai bagian dari motto “kampus kerakyatan” yang selama ini digadang-gadang. Kami menolak disingkirkan secara sepihak dengan didirikannya kawasan kampus ekslusif, dimana hanya mahasiswa (yang sebagian besar pendatang) yang diperbolehkan mengakses kawasan tersebut. Kami juga menuntut pihak UGM menyertakan kehidupan dan kenyamanan masyarakat Jogja sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan, bukan hanya kenyamanan mahasiswa semata. Jika memang UGM tidak sudi membuka akses tersebut, ada baiknya motto “Kampus kerakyatan” tidak lagi didengungkan di kawasan UGM.

“Sang Gajah sudah dewasa dan lupa dengan masa lalunya, kini ia mengadah sombong tanpa melihat kami yang membantunya besar hingga saat ini.”

Berikut Tautan Petisi di Change.org:

Muncul petisi online kepada Universitas Gadjah Mada untuk membuka kembali Jalan olah raga.

Dikirim oleh Students.ID pada 10 Maret 2017

Tautan ad

What do you think?

3 points
Upvote Downvote

Total votes: 15

Upvotes: 9

Upvotes percentage: 60.000000%

Downvotes: 6

Downvotes percentage: 40.000000%

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Loading…

Comments

comments

sampah antariksa

Melihat Sampah yang Menumpuk di Orbit Bumi selama 60 Tahun